Minggu, 08 Juli 2012

ilmu bayan


ILMU AL-BAYAN
Pendahuluan
Barometer kepandaian seseorang salah satunya dapat dilihat dari sisi bahasanya. Pilihan kata, gaya bahasa, dan cara bicaranya akan menunjukan kehebatan dan kemampuan intelektual serta martabat orang tersebut. Dalam istilah Arab, orang tersebut termasuk kategori mutakallim baligh atau mutakallim fashih yakni orang yang bicaranya bagus, hebat, tepat, dan jelas. Orang Arab menyebut “kehebatan berbahasa” tersebut dengan istilah Balaghah,[1]
Dengan demikian, balaghah sebagai sebuah disiplin ilmu, memiliki tiga disiplin ilmu sekaligus, yakni ilmu al-Ma’ani, ilmu al-Bayan dan ilmu al-Badi’. Akan tetapi dalam makalah ini hanya membahas satu dari ketiga disiplin ilmu tersebut, yaitu ilmu al-Bayan.[2]
Pembahasan
Ilmu bayan adalah ilmu yang dengannya itu dapat diketahui cara-cara penerapan makna (arti) dengan lafal yang berbeda-beda penjelasannya (dari yang kurang jelas, jelas dan lebih jelas).[3] Jadi ilmu bayan adalah mengajarkan tentang cara-cara melontarkan ide, gagasan, atau maksud dan tujuan melalui bahasa yang indah dan menarik.[4]
Pada bagian ilmu bayan dalam makalah ini kita akan mempelajari tentang beragam teknik atau cara mengungkapkan isi hati dan pikiran kita. Menurut ilmu ini, sebuah gagasan dapat diungkapkan melalui berbagai cara dan beragam teknik. Misalnya, kita dapat menggunakan gaya bahasa vulgar, (baca: hakikat) seperti tercermin pada makna denotatifnya, atau gaya bahasa asosiatif, atau penyerupaan (baca: tasybih) atau bahasa simbolik, seperti terlihat pada makna konotatifnya (baca: majaz) atau bahasa sindiran (baca: kinayah).[5]
Sebagai langkah awal untuk memahami konsep-konsep di atas, kita dapat mengambil contoh sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Jika kita ingin mengungkapkan kecantikan seseorang, maka dapat menggunakan gaya bahasa:
  1. “Dia cantik” (هي جميلة)
  2. “Dia cantik bagai purnama” (هي كالبدر فى الجمال)
  3. “Saya melihat purnama tersenyum” (رايت بدرا يتبسم)
Dalam ilmu al-Bayan, cara yang pertama disebut hakikat, cara yang kedua disebut tasybih, dan cara yang ketiga disebut majaz. Selain ketiga cara di atas, kita juga dapat mengungkapkannya melalui bahasa kinayah, misalnya, “Keindahan itu berada di antara pakaiannya (الجمال بين لبا سها).
Ungkapan ini, selain menunjukan keindahan pakaian, juga menunjukan kecantikan pemakainya. Dan inilah makna yang dimaksud dengan kinayah sebagai bahasa sindiran.
Kesimpulan
            Dari penjelasan di atas dalam makalah ini, maka kita dapat menyimpulkan, bahwa ilmu bayan adalah mengajarkan tentang cara-cara melontarkan ide, gagasan, atau maksud dan tujuan melalui bahasa yang indah dan menarik. Dan ilmu al-Bayan itu sendiri mencakup pembahasan tentang gaya bahasa: hakikat, tasybih, majaz dan kinayah.


[1] Yuyun Wahyuddin, Menguasai Balaghah Cara Cerdas Berbahasa, (Yogyakarta: Nurma Media Idea, 2007), hlm. 1
[2] Ibid, hlm. 3
[3] Imam Akhdhori, Terjemah Jauharul Maknun(Ilmu Balaghah), (Surabaya: Al-Hidayah), hlm. 146
[4] Yuyun Wahyuddin, Menguasai Balaghah Cara Cerdas Berbahasa, (Yogyakarta: Nurma Media Idea, 2007), hlm. 2
[5] Ibid, hlm. 4-5

0 komentar:

Poskan Komentar

 
;